Shaleh Saja Tidak Cukup

Assalammualaikum…

Sebelum tambah bingung dengan tulisan ini, saya tegaskan dulu bahwa “shaleh saja tidak cukup” ini bukan saya tujukan untuk Ulama, akan tetapi orang biasa yang sehari-hari terikat dengan urusan duniawi.

Memangnya ulama ngga terikat dengan dunia? Ya tentu ada, tapi ngga seperti kita-kita inilah pokoknya (pasti paham kan?).

Shaleh saja tidak cukup. Itulah salah satu hal yang harus dipahami oleh kita ini yang sehari-hari memang berinteraksi dengan dunia.

Shaleh Itu Harus

Tentu saja, shaleh itu harus.

Namun perlu diingat juga, bahwa kita harus profesional dengan tugas kita masing-masing. Secara umum, kita memiliki banyak tugas atau profesi. Jika dirincikan, profesi kita akan menjadi seperti ini:

  • Seorang anak/ibu/ayah/kakak/adik
  • Seorang suami/istri
  • Seorang pekerja/pengusaha
  • Seorang atasan/bawahan
  • Seorang teman/rekan/pasangan
  • Seorang hamba (ini tentu mutlak)

Jika kita memiliki profesi atau status yang saya sebutkan itu, maka itulah kondisi dimana kita dituntut untuk tidak hanya menjadi shaleh. Akan tetapi juga profesional.

Profesional Juga Harus

shaleh dan profesional

Profesional pada apa? Ya tentu pada semua bidang yang memang menjadi tanggung jawab kita masing-masing.

Ini yang banyak kita abaikan.

Banyak orang yang berpikir bahwa shaleh saja sudah cukup. Memang benar, jika kita lihat dari shaleh secara keseluruhan, orang shaleh pasti akan juga profesional pada pekerjaannya. Karena menjadi profesional juga termasuk bagian dari tanggung jawab.

Dan orang shaleh pasti akan bertanggung jawab. Correct?

Akan tetapi tidak sedikit yang memisahkan shaleh dan urusan duniawi ini. Artinya banyak orang yang bagus sekali pada bagian ibadahnya, namun tidak bagus dalam pekerjaannya. Apapun jenis pekerjaannya itu, dia tidak berprestasi.

Atau bahkan di bawah standard. Hmm…

Orang seperti ini memang Buanyakk. Banyak sekali.

Oleh karena itulah, saya mendengar bahwa penjelasan akhlak atau karakter sekarang juga sudah dibagi menjadi dua, yaitu:

  1. Karakter Moral

Yaitu karakter yang berkaitan dengan moral kita. Seperti Iman, Taqwa, rendah hati, jujur, baik, tidak sombong, ramah, dsb.

Cukup jelas ya?

  1. Karakter Kinerja

shaleh dan profesional

Yaitu karakter yang profesional dalam bekerja, kerja keras, mencapai target, ulet, tangguh, tidak mudah menyerah. Intinya melakukan tugas sesuai aturan atau target. Jadi tidak ogah-ogahan dalam bekerja.

Intinya kita tidak ingin ada yang shaleh, tapi kerjanya tidak bagus. Sehingga targetnya sering tidak tercapai. Dan jika hal ini terjadi, maka tentu pemilik perusahaan atau atasannya akan memperkerjakan orang lain yang lebih bagus kerjanya.

Siapa mereka?

Ya mereka yang banyak didominiasi saat ini. Yaitu mereka yang bagus kerjanya, ulet dan kerja keras. Akan tetapi mereka tidak shaleh. Mereka adalah orang yang tidak jujur, dan sebagainya. Sehingga justru banyak kecurangan yang mereka manfaatkan.

Itulah yang terjadi jika orang shaleh tidak profesional, atau orang profesional tapi tidak shaleh.

Maka kita harus punya keduanya. Yaitu karakter yang lengkap, baik dari segi moral, maupun kinerja.

Setelah ini, ada pula yang akan berkomentar seperti ini:

“Lho, Orang Islam kan memang tidak harus mikirin dunia? Yang penting cukup untuk makan. Tidak perlu mengejar dunia terlalu jauh”.

Kamu termasuk salah satu mikirin gitu? Semoga tidak.

Baik, biar saya ceritakan beberapa hal yang saya tahu dan mungkin juga kamu tahu:

  • Banyak pekerja yang mencuri uang perusahaannya (jadi, maling bukan cuma koruptor).
  • Banyak pengusaha yang tidak jujur.
  • Banyak perusahaan yang tidak jujur. Melakukan sogok terhadap dinas tertentu atau instansi tertentu agar perusahannya lancar.
  • Pekerja yang tidak jujur namun bagus kinerjanya, mereka akan naik pangkat dan akan besar. Ketika besar, mereka juga akan menggunakan jabatannya semena-mena. (Jujur saja, banyak saya temui di depan mata).
  • Beberapa perusahaan/pengusaha memberikan uang entertaint (sebagai bonus) kepada karyawannya dan banyak yang digunakan untuk hal negatif seperti blablabla (ngga enak saya tulis, silahkan liat aja di berita-berita, ya kurang lebih seperti itu).

Katanya sih hal-hal itu termasuk rahasia umum. Wallahualam…

shaleh dan profesional

Nah, jika kita pikir panjang, maka hasilnya akan seperti ini:

Orang jahat semakin banyak dan sukses, ketika kita tidak profesional, maka kita atau keturunan kita nanti terpaksa bekerja dengan mereka. Akibatnya kita juga “tepaksa” ikut-ikutan di lingkungan jahatnya. Baik itu terstruktur ataupun tidak.

Sepakat?

Jika tidak sepakat, silahkan lihat lagi di tipi atau di fesbuk, banyak sekali fakta seperti ini:

  • Muslim yang harus buka jilbabnya demi pekerjaan.
  • Muslim yang tidak diizinkan sholat jumat.
  • Muslim yang tidak diizinkan sholat.
  • Pekerja yang gajinya tidak naik-naik tapi kerjaannya nambah.
  • Demo buruh.
  • Dll.

Nah, sudah setuju sekarang?

Shaleh Harus Dibarengi dengan Profesionalitas

Itulah fakta yang terjadi. Maka menjadi muslim yang shaleh tentu saja harus. Namun menjadi profesional dalam kinerja juga harus, agar lebih maju, makmur, serta sukses dunia dan akhirat.

Dan tentu saja, tujuan dari dunia tetap selalu harus dihubungkan dengan akhirat. Karena akhirat adalah tujuan yang sebenarnya, dan dunia hanya tempat singgahan.

Tapi kalau susah di tempat singgahan seperti poin di atas (terpaksa buka aurat, tidak sholat, dll), bagaimana kita akan bertanggung jawab di hadapan Allah kelak?

Well, terserah kamu sekarang. Mau jadi sekedar shaleh saja, atau shaleh yang juga profesional.

Allahualam.

Salam,

Alhadi Ibrahim

Leave a Comment

%d bloggers like this: