Perjalanan Main Futsal dengan Guru Sintesa

Asslammualaikum.

Sekarang saya akan ngeshare tentang pengalaman saya main futsal dengan teman-teman dan Guru Sintesa.

Menyambung tulisan saya sebelumnya, setelah saya resign dari pekerjaan saya sebelumnya, saya kemudian memutuskan untuk masuk ke Pesantren Sintesa.

Udah pada tahu Sintesa kan?

Singkatnya, Pesantren Sintesa adalah pesantren yang akan mengajarkan Internet Marketing dan menghafal Alquran.

Udah, segitu aja ya. Selengkapnya bisa kamu baca sintesa.net.

Tiba-tiba Diajak Futsal

pixabay

Jumat, 2 Maret 2018, tiba-tiba ada teman yang ngajak main futsal bareng senior para guru di Sintesa.

Mengingat badan ini jarang bergerak dan kerjaannya sangat fokus duduk di depan laptop. Tanpa pikir panjang, langsung saja saya setuju ajakannya.

Sebenarnya saya pribadi juga sudah pengen sekali main futsal. Dulu saya memang sering main futsal saat kerja di perusahaan sebelumnya. Biasanya juga malam-malam setelah kegiatan, kami berolahraga dengan berbagai macam permainan.

Ada yang main bulu tangkis, tennis meja, dan futsal. Saya tentu pilih futsal.

Kenapa?

Karena futsal lebih melelahkan. Artinya lebih banyak mengeluarkan keringat dan lebih banyak membakar kalori tentunya. Bagi kamu yang ingin diet, main futsal menjadi salah satu solusi tentunya.

Tidak Punya Sepatu Futsal

pixabay

Sebenarnya, dulu saya tidak berniat akan bermain futsal di sini. Karena hanya ingin fokus di program yang disediakan oleh Sintesa saja. Jadinya saya tidak membawa sepatu futsal ke Sintesa.

Emangnya punya? Ah sudahlah.

Pihak Sintesa sendiri sebenarnya sudah menginformasikan bahwa jika ada ketertarikan di futsal, silahkan bawa sepatunya juga.

Meskipun saya tidak membawa sepatu, ternyata teman-teman membolehkan untuk tetap ikut bermain. Karena memang biasanya ada juga yang nggak pakai sepatu kok. Asalkan siap saja dengan resiko diinjak kakinya ya.

Setelah siap-siap, kami menunggu jemputan.

Saya masih melihat mayoritas teman-teman memang membawa sepatu futsal dari rumahnya. Sepertinya akan sedikit minder nih. Tapi tidak apa-apa, yang penting berkeringat dan menggerakkan badan biar terhindar dari penyakit-penyakit karena kurang bergerak.

Perjalanan Menuju ke Lapangan Futsal

pexels

Setelah menunggu beberapa saat, jemputan pun datang.

Yang nyetir adalah teman sendiri yaitu Abdul, ternyata dia tadi sempat kelewat lorong juga, makanya agak telat jemputnya. Maklum saja, bukan putra daerah.

Saat mobil berhenti, saya langsung saja buka pintu depan dan duduk di depan. Sengaja saya pilih di depan karena badan saya lumayan lebih besar dari yang lain.

Jadi kursi yang muatnya banyak tetap bisa muat banyak jika diduduki oleh teman yang badannya kecil-kecil (Baca: kurus).

Perjalanan pun dimulai.

Tentu lebih banyak becandanya daripada ngobrol yang bermanfaat. Mungkin untuk menghilangkan kepenatan juga setelah banyak menulis artikel. Kami memang sedang dapat tugas untuk menulis artikel untuk melatih menulis. Beberapa artikel yang sudah pernah saya tulis adalah :

Jangan Nekat Kerja di Perkebunan Kelapa Sawit Sebelum Tahu 12 Kondisi Ini

Ini Alasan Pekerja Resign dan Fokus Usaha

7 Hal di Masa Gerakan Aceh Merdeka yang Kamu Belum Tahu

Pengalaman Wisata ke Sabang

7 Hal yang Wajib Kamu Tahu Sebelum ke Temboro

Silahkan dibaca ya, jika berminat tentunya.

Sampai di Lapangan Futsal

unsplash

Nah, ini bagian yang membuat saya salah persepsi. Tadinya saya mengira lapangannya adalah memang lapangan standard futsal dengan rumput sintetisnya, makanya berani aja walaupun tanpa sepatu. Dan ternyata bukan rumput sintetis, melainkan hanya beralaskan semen saja.

“Kayaknya bisa rusak ni kaki”, perkiraan saya sih gitu.

Langsung saja saya coba tendang-tendang bola dulu untuk pemanasan, ternyata lumayan enak dan tidak merusak kaki. hehe

Setelah itu, langsung saja kita bagi tim.

Yang main duluan adalah tim angkatan saya melawan angkatan sebelumnya. Jumlah pemainnya ada 5 orang/tim. Dalam tim saya, hanya saya saja yang tidak mengenakan sepatu. Tidak apa-apa, yang penting percaya diri. Ya nggak?

Ketika melihat tim sebelah, ternyata ada juga yang tidak memakai sepatu satu orang. Wah sama nih, yasudah, makin pede lagi jadinya.

Kalah 2-0

pixabay

Setelah bermain beberapa lama, tim kami kalah dengan score 2-0.

Meskipun kalah, tapi lumayan puas mainnya. Karena cukup seru saat menendang bola, dan lari-lari. Terserahlah berapa scorenya, yang penting lari dan berkeringat.

Karena permainannya dengan aturan sendiri, yaitu kalau sudah score 2, maka tim yang kalah harus keluar dan diganti dengan tim lainnya.

Oh iya, tadi kami datang lumayan banyak orangnya, jadi bisa dibentuk beberapa tim.

Akhirnya tim kami keluar dan diganti dengan tim yang lain. Tim lain yang main adalah teman-teman seangkatan dan ditambah dengan satu orang guru di Sintesa.

Yang menjadi perhatian saya pada tim tersebut adalah ternyata guru kami yang bermain itu juga tidak memakai sepatu.

Jadi nambah teman yang nggak pakai sepatu nih, guru pula. Hilang sudah mindernya tadi.

Pertandingan ke-dua

pixabay

Setelah beberapa kali ganti pertandingan, tibalah saat tim saya kembali bermain. Kali ini tim saya melawan tim sebelah yang salah satu pemainnya adalah pemimpin sekaligus guru Sintesa sendiri, yaitu guru kami Mas Vatih.

Beberapa kali berpapasan dan melihat permainan beliau, tenyata Mas Vatih bukan hanya jago di SEO saja, namun juga jago di permainan futsal.

Pertandingan ini lebih seru dari sebelumnya. Karena sulit juga untuk mencetak score dari kedua belah pihak. Tapi saya berhasil mencetak 1 angka. Hehe…

Keburuntungan saja sih, karena saya sebenarnya . . . Ah sudahlah.

Setelah main beberapa lama dan belum ada yang mencetak gol ke-dua, saya sudah merasa lelah sekali sebenarnya. Tapi tetap semangat saja untuk main.

Mungkin karena mainnya sudah terlalu lama, akhirnya sepakat tim kami tetap diganti dengan tim lainnya. Ya biar kebagian main juga tim lainnya. Karena pada dasarnya permainan futsal ini bukan bertujuan untuk pertandingan serius kok, hanya untuk olahraga saja, biar sehat.

Pulang

pexels

Akhirnya bel tanda waktu sewa lapangan telah habis pun berbunyi, langsung saja semua keluar dari lapangan dan bersiap-siap untuk pulang.

Sambil jalan pulang, saya sempatkan diri untuk bersalaman dan mencium tangan para guru di Sintesa. Namun semuanya menarik kembali tangan mereka, tanda tawadhu’nya mereka dan tidak merasa tangannya pantas untuk dicium.

Jadi kalau ada yang begitu, itu bukan sombong ya, tetapi Tawadhu’.

Setelah itu, kami langsung menaiki mobil dan jalan pulang. Tidak ada yang spesial dalam perjalanan pulang ini, semuanya berjalan lancar dan Alhamdulillah aman serta selamat sampai kembali di asrama Sintesa.

Begitu sampai di Asrama, yang pertama saya cari adalah air minum. Karena memang saya belum minum sejak pertandingan tadi. Saya memang sengaja tidak membawa air minum tadi, biar tidak repot, dan tidak baik juga kan kalau setelah berkeringat langsung minum.

Setelah minum satu botol (botol kecil kok), langsung saja cari handuk untuk mandi.

Setelah mandi, jadi teringat bahwa tugas menulis belum selesai semua dikerjakan karena tadi pagi belum dapat inspirasi mau menulis cerita apa.

Akhirnya karena memang baru saja main futsal dan menjadi pengalaman baru di Sintesa ini, jadinya saya menulis tentang ini saja ya biar cepat.

Demikian pengalaman saya bermain futsal dengan para guru di Sintesa.

Semoga bisa menjadi tulisan yang baik secara penulisan dengan ketentuan Bahasa Indonesia yang benar.

Demikian ya. Terima kasih.

Salam,

Alhadi Ibrahim

Leave a Comment

%d bloggers like this: